MGMP

MGMP Medium Para Guru Untuk Revitalisasi PBM

Oleh : Noviar

Proses pengelolaan kelas saat ini sangat komplek. Kurikulum harus dicermati dan dipahami dengan baik. Infrastruktur perlu disiapkan untuk mencapai visi dan misi sekolah. Informasi mesti di cari dengan cepat dan tepat. Koordinasi dan komunikasi dengan stakeholder maupun stockholder harus terjalin dengan rapi. Sumberdaya yang ada harus dikelola dengan tepat. Serta permasalahan-permasalahan non teknis lainnya yang mendesak untuk disikapi secara tepat.

Dengan cepat dan transparan berbagai informasi diterima siswa melalui bermacam-macam media tanpa melalui proses penyaringan. Sebagai akibatnya, siswa menjadi bingung berada di tengah lingkaran pengetahuan yang sulit dipahami. Dalam keadaan demikian, keberadaan guru sebagai pengarah, pendidik, pembimbing, dan fasilitator sangat dibutuhkan. Keadaan ini menuntut guru tidak ketinggalan dari kebutuhan pembangunan pendidikan nasional dan perkembangan Iptek dan Seni

Atas dasar hal tersebut, guru perlu memiliki penguasaan informasi yang terbaru, inovasi-inovasi baru dan metode atau pendekatan pembelajran yang up to date. Selain itu, untuk menunjang tugas-tugasnya, guru perlu menguasai metodologi pengajaran, perlu mengetahui pemilihan materi dan media, serta mengevaluasi keberhasilan siswa, keberhasilan program dan keberhasilan dirinya.

Berbagai jenis pelatihan, workshop, dan Training of Trainer telahpun dilaksanakan. Namun kenyataannya masih banyak guru yang belum mampu mengaplikasikan hasil pelatihan tersebut di kelas. Padahal pelatihan-pelatihan dimaksudkan agar terjadi perubah di kelas. Di samping itu, jumlah guru yang memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan juga terbatas.

Untuk mengakomodasi kebutuhan dan tuntutan terhadap profesionalitas guru serta berbagai kompetensi yang harus dimilikinya dalam mengelola kelas, diperlukan suatu wadah untuk saling bertukar informasi dan berdiskusi. Salah satu wadah pelatihan yang tepat diadakan adalah Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Melalui MGMP ini, dilakukan berbagai kegiatan yang mengacu pada peningkatan kompetensi yang harus dimiliki kepala sekolah. Selain itu, melalui wadah ini, para guru memiliki kesempatan untuk saling berbagi pengalaman dan solusi atas berbagai permasalahan pembelajaran di sekolah masing-masing.

Teknis pelaksanaan MGMP ini sebenarnya diserahkan kepada masing-masing kelompok guru mata pelajaran. Yang paling umum dilakukan adalah guru mata pelajaran di satu sekolah atau beberapa sekolah yang berdekatan melakukan musyawarah/diskusi pada satu tempat dan waktu yang disepakati bersama. Dalam pertemuan ini mereka membicarakan berbagai hal yang berkaitan dengan tugas pokok guru yakni membuat rancangan, pelaksanaan, evaluasi, dan remediasi.

Disamping cost yang ditimbulkan relatif kecil, kegiatan ini juga sangat dekat dengan problematika tugas guru sehari-hari. Persoalan yang ditemui ketika mengajar di kelas dapat dengan cepat didiskusikan dengan teman sejawat sehingga sangat mungkin bagi guru untuk mendapatkan solusi yang sesuai dengan kondisi masing-masing.

Beberapa kesulitan dialami oleh sekolah terutam bagi daerah yang wilayahnya relatif luas sehingga jarak antar sekolah cukup berjauhan. Jika jarak antar sekolah relatif jauh, sementara jumlah guru tiap mata pelajaran di masing-masing sekolah rata-rata 1 orang, maka frekuensi mereka dapat bertemu untuk bermusyawarah juga akan semakin kecil. Manakala intensitas komunikasi guru sejenis sangat kurang, maka sharing idea dan informasi juga akan berkurang. Alhasil, proses peningkatan mutu pembelajaran juga akan terhambat dan terlambat.

Salah satu cara mengurang risiko tersebut adalah dengan memberikan stimulus kepada para guru. Misalnya, untuk mengikuti kegiatan MGMP guru-guru diberikan kemudahan penyesuaian jadwal mengajar. Disamping menambah wawasan, MGMP juga dapat digunakan sebagai bahan untuk penilaian kenaikan pangkat. Dalam proses sertifikasi guru dalam jabatan, kegiatan MGMP juga merupakan salah satu poin yang dinilai pada portofolio guru. Dalam bentuk finansial kepada guru juga dapat diberikan bantuan transportasi dan akomodasi selama mengikuti kegiatan MGMP. Semuanya dimaksudkan agar para guru termotivasi untuk aktif mengikuti kegiatan ini.

Sampai saat ini pemerintah, baik pusat maupun daerah, masih mendorong agar sekolah-sekolah untuk mengakomodir kebutuhan guru-guru terutama yang berkaitan dengan MGMP. Bahkan Ditjen PMPTK melalui Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) menyediakan bantuan Rp. 10 Juta untuk tiap kelompok MGMP. Beberapa kabupaten/kota yang peduli terhadap peningkatan mutu pendidikan bahkan juga telah mengalokasikan dana untuk MGMP tingkat Kabupaten/Kota masing-masing. Menurut pengamatan penulis, pada tingkat sekolah, dukungan terhadap MGMP juga tidak kalah kuatnya. Alokasi dana dalam RAPBS baik yang bersumber dari dan BOS maupun komite, tersedia dalam jumlah yang memadai, meskipun juga dibatasi oleh anggaran sekolah yang juga terbatas.

Agaknya satu hal yang perlu menjadi perhatian bagi para pengurus MGMP di masing-masing kelompok adalah bagaimana proses kegiatan ini dapat berjalan sesuai dengan apa yang telah disepakati bersama. Kontrol juga perlu dilakukan oleh kepala sekolah dan pihak dinas pendidikan kabupate/kota.

Yang paling penting adalah para guru peserta MGMP harus memperlihatkan unjukkerja yang lebih baik di kelas setelah mengikuti MGMP. Padaketika tidak terjadi perubahan positif dalam kelas, maka kegiatan musyawarah guru tersebut menjadi suatu kegiatan yang sesungguhnya sia-sia. Tuhan amat murka terhadap orang yang sia-sia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s