PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH (bag 1)

Agaknya saat ini tidak ada orang di jajaran Kementerian Pendidikan Nasional yang tidak familiar dengan kata pendidikan karakter . Pak Mentri, telah mencanangkan bahwa tahun 2011 adalah tahun pendidikan karakter. Disetiap pertemuan yang diadakan oleh pihak kementrian saat bisa dipastikan akan selalu ada materi bahasan yang berkaitan dengan pendidikan karakter.
Di samping itu, sejak beberapa tahun belakangan ini kita sepertinya terobsesi dengan kemajuan bangsa-bangsa lain terutam di bidang sains dan teknologi. Kita dengan berbagai upaya berusa mengejar mereka-mereka yang kita anggap telah maju itu.
Pertanyaannya, sebegitu pentingkah makhluk yang bernama pendidikan karakter itu? Kalau iya, lantas siapa yang harus terlibat? Agar nantinya tidak tersesat jauh, kemana kita akan merujuk?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu agaknya perlu kapasitas yang jauh lebih besar dari yang saya bayangkan. Namun sekedar ingin membantu mengurai kekisruhan ini tak ada salahnya kita coba melakukan penelusuran ke beberapa sudut.
Saat ini, kita bisa merasakan bahwa perilaku anak-anak sangat mencemaskan kita. Anak-anak yang dari rumah merupakan anak manis yang bersahaja, santun, tekun, dan disiplin, tiba-tiba begitu memasuki usia sekolah mereka berubah menjadi orang asing, seperti alien. Sikap dan ucapan mereka sangat jauh dari ajaran tatakrama yang telah diberikan di rumah. Menurut seorang budayawan, Frans Magnis Suseno, bahwa anak-anak berperilaku berbeda tatkala dalam konteks tradisional dibandingkan kalau di luar kontek itu. Jika dalam acara formal, secara tradisi, anak-anak akan berlaku sopan. Namun jika anak-anak itu berada pada suatu kelompok lain mereka dapat saja bertindak sangat agresif bahkan kandangkala cenderung berangasan.
Umumnya Setiap perilaku manusia tiba-tiba, muncul begitu saja dan kemudian akan hilang begitu saja, semuanya melalui proses berpikir. Proses berpikir berkembang berdasarkan learning experiences. Padahal bila bicara content pelajaran, tidak ada sekolah yang –dengan sengaja– mengajarkan anak untuk berperilaku tidak baik!, di rumahpun orang tua selalu mengingatkan dan mengawasi perilaku anak-anak mereka, semua baik-baik saja (Zulfikri Anas, Staf Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdiknas).
(bersambung…..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s